Operasi & Rantai Pasok Yang Berkelanjutan
Dr. Purbanuara Parlindungan
Institut Transportasi dan Logistik Trisakti
Paradigma Baru dalam
Keunggulan Kompetitif
Dorongan menuju tanggung
jawab global bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan telah menjadi sebuah
keharusan strategis yang didorong oleh tiga kekuatan utama yang saling
terkait:Tuntutan Konsumen yang Berubah: Konsumen modern, terutama generasi
milenial dan Z, semakin cerdas dan sadar. Mereka tidak hanya membeli produk
atau jasa; mereka "membeli" nilai dan cerita di baliknya. Mereka
ingin tahu dari mana produk berasal, bagaimana proses pembuatannya, dan apa
dampaknya bagi planet dan masyarakat. Preferensi untuk produk yang etis, ramah
lingkungan, dan transparan memberikan tekanan pasar yang nyata. Perusahaan yang
mengabaikan tuntutan ini berisiko kehilangan loyalitas pelanggan dan ekuitas
merek (brand equity) yang telah dibangun bertahun-tahun.
Regulasi Pemerintah yang Semakin Ketat: Pemerintah di seluruh dunia merespons krisis iklim dan sosial dengan memberlakukan regulasi yang lebih ketat. Mulai dari pajak karbon, standar emisi, kewajiban untuk melaporkan data keberlanjutan (sustainability reporting), hingga undang-undang yang melarang penggunaan bahan berbahaya atau praktik kerja paksa dalam rantai pasok. Kepatuhan (compliance) terhadap regulasi ini bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak untuk dapat beroperasi (license to operate).
Peningkatan Risiko Iklim
dan Operasional: Perubahan iklim bukan lagi isu abstrak. Kejadian cuaca ekstrem
seperti banjir, badai, dan kekeringan secara langsung mengganggu jalur
logistik, merusak infrastruktur, dan mengancam pasokan bahan baku (terutama
dalam industri agrikultur). Rantai pasok yang tidak resilien dan tidak
berkelanjutan menjadi sangat rentan terhadap disrupsi ini. Dengan demikian,
keberlanjutan menjadi sinonim dengan manajemen risiko dan pembangunan ketahanan
operasional (operational resilience) dalam jangka panjang.
Definisi yang paling
diterima secara luas berakar pada kerangka Triple Bottom Line (TBL), yang
menyatakan bahwa kinerja perusahaan harus diukur berdasarkan tiga pilar utama:
1.
Keberlanjutan Lingkungan
(Planet): Fokus pada dampak ekologis dari seluruh aktivitas operasional. Ini
mencakup upaya meminimalkan jejak karbon, mengurangi polusi dan limbah,
mengelola sumber daya alam secara efisien, serta mengadopsi prinsip ekonomi
sirkular (mendesain produk agar dapat digunakan kembali, diperbaiki, atau
didaur ulang).
2.
Keberlanjutan Sosial
(People): Fokus pada dampak perusahaan terhadap seluruh pemangku kepentingan
manusia, termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, dan komunitas lokal. Pilar ini
menekankan praktik ketenagakerjaan yang adil, kesehatan dan keselamatan kerja,
hak asasi manusia, keberagaman, serta kontribusi positif bagi masyarakat.
3.
Keberlanjutan Ekonomi
(Profit): Pilar ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukanlah kegiatan filantropi,
melainkan strategi bisnis yang cerdas. Ini mencakup profitabilitas jangka
panjang, manajemen risiko yang efektif, tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance), dan kemampuan untuk berinovasi serta beradaptasi
dalam lingkungan bisnis yang terus berubah.
Fondasi dan
Prinsip-Prinsip Keberlanjutan
Konsep paling
fundamental dalam dunia keberlanjutan adalah Triple Bottom Line (TBL) atau 3P,
yang pertama kali dipopulerkan oleh
Pilar Lingkungan (Planet)
adalah aspek yang paling sering diasosiasikan dengan keberlanjutan. Fokusnya
adalah mengelola dan meminimalkan dampak negatif operasi perusahaan terhadap
ekosistem. Dalam konteks SCM dan Manajemen Jasa, ini diterjemahkan ke dalam
tiga area kunci: 1) Manajemen jejak karbon (carbon footprint); 2) Transisi
menuju ekonomi sirkular (circular economy); 3) Manajemen sumber daya
alam.
Pilar Sosial (People)
seringkali menjadi aspek yang paling kompleks karena menyangkut dampak
perusahaan terhadap manusia di dalam dan di luar organisasi. Dalam rantai pasok
global yang panjang dan berlapis, memastikan kesejahteraan manusia menjadi
tantangan sekaligus imperatif etis, yaitu: 1) etika ketenagakerjaan dan hak asasi
manusia; 2) kesehatan dan keselamatan kerja (K3); 3) keterlibatan komunitas (community
engagement).
Pilar Ekonomi (Profit)
menegaskan bahwa keberlanjutan bukanlah beban biaya, melainkan sebuah strategi
untuk memastikan kelangsungan dan profitabilitas jangka panjang. Pilar ini
menggeser fokus dari keuntungan kuartalan yang sempit ke penciptaan nilai yang
berkelanjutan, antara lain: 1) resiliensi rantai pasok (supply chain
resilience); 2) manajemen risiko holistik; 3) profitabilitas jangka panjang:
Prinsip inti Supply
Chain Management adalah pemikiran sistemik—memahami bahwa tidak ada entitas
yang berdiri sendiri. Kinerja keseluruhan rantai pasok ditentukan oleh mata
rantai terlemahnya. Oleh karena itu, keberlanjutan harus diterapkan secara end-to-end.
Keberhasilan proses ini bergantung pada transparansi, kolaborasi, dan berbagi
tanggung jawab di seluruh jaringan
Ketika ketiga pilar TBL
diimplementasikan secara terintegrasi di seluruh rantai pasok, keberlanjutan
bertransformasi dari sekadar "kewajiban" menjadi sumber keunggulan
kompetitif yang kuat, seperti: mendorong inovasi, membangun reputasi merek dan
kepercayaan, menciptakan keunggulan kompetitif yang sulit ditiru.
Dimensi Lingkungan:
Membangun Rantai Pasok Hijau (Green Supply Chain)
Setelah meletakkan
fondasi konseptual, kini saatnya membedah pilar pertama dari Triple Bottom
Line secara mendalam: Planet. Selanjutnya tulisan ini akan berfokus pada
dimensi lingkungan dengan memperkenalkan konsep Rantai Pasok Hijau (Green
Supply Chain Management - GSCM). GSCM bukanlah sebuah fungsi yang terpisah,
melainkan sebuah filosofi yang mengintegrasikan pemikiran lingkungan ke dalam
setiap keputusan dan proses di sepanjang rantai pasok. Tujuannya adalah untuk
meminimalkan jejak ekologis sambil secara bersamaan meningkatkan efisiensi dan
nilai. Setiap tahapan, mulai dari pengadaan bahan baku hingga produk sampai di
tangan konsumen dan kembali lagi, dapat didesain ulang untuk menjadi lebih
ramah lingkungan
Pengadaan Hijau adalah
proses di mana sebuah organisasi mempertimbangkan kriteria lingkungan secara
eksplisit saat memilih pemasok dan membeli barang atau jasa. Ini adalah titik
ungkit (leverage point) yang paling strategis, karena keputusan yang
dibuat di sini akan berdampak rambat (ripple effect) ke seluruh rantai
pasok. Jika bahan baku yang dibeli tidak ramah lingkungan, maka hampir mustahil
untuk menghasilkan produk akhir yang berkelanjutan. Praktik ini melampaui
kriteria tradisional seperti harga, kualitas, dan waktu pengiriman. Perusahaan
yang menerapkan pengadaan hijau akan menambahkan serangkaian kriteria evaluasi
baru, seperti: sertifikasi lingkungan, penggunaan material, kinerja energi dan
emisi, manajemen limbah. Setelah bahan baku "hijau" diperoleh, fokus
beralih ke proses transformasi di dalam perusahaan. Manufaktur Hijau adalah
tentang mendesain ulang proses produksi untuk mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan
Logistik Hijau bertujuan
untuk merancang ulang aktivitas ini agar lebih efisien dan ramah lingkungan dan
transportasi adalah jantung dari logistik. Upaya menghijaukan transportasi
berfokus pada: pergeseran moda (modal shift), optimalisasi rute dan
muatan, teknologi kendaraan. Gudang Berkelanjutan dirancang dan
dioperasikan untuk meminimalkan konsumsi sumber daya. Inisiatif utamanya
meliputi: desain gedung, efisiensi energi, manajemen limbah.
Tahap terakhir dan
mungkin yang paling transformatif dalam rantai pasok hijau adalah Logistik
Balik yang merupakan tulang punggung dari Ekonomi Sirkular. Logistik balik
bukan lagi sekadar mengelola "pengembalian barang rusak," melainkan
sebuah proses strategis untuk memulihkan nilai (value recovery).
Aktivitas utamanya meliputi: penggunaan ulang (reuse), perbaikan dan refurbishment,
produksi ulang (remanufacturing), daur ulang (recycling).
Dimensi Sosial: Etika
dan Tanggung Jawab di Seluruh Jaringan
Fondasi dari rantai
pasok yang bertanggung jawab secara sosial adalah perlakuan yang adil dan
manusiawi terhadap setiap pekerja di dalamnya. Ini melampaui kepatuhan hukum
minimum dan mencakup komitmen proaktif terhadap kesejahteraan tenaga kerja.
prinsip utamanya meliputi: upah yang layak (fair wages), jam kerja yang
manusiawi, larangan kerja paksa dan pekerja anak, kebebasan berserikat. Di atas
semua itu, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) menjadi prioritas utama dalam konteks
manufaktur.
Keterlacakan adalah
kemampuan untuk melacak jejak suatu produk dan komponennya di setiap langkah
rantai pasok, mulai dari sumber bahan baku mentah hingga sampai ke tangan
konsumen. Tanpa keterlacakan, klaim tentang "sumber yang etis"
hanyalah kata-kata kosong. Perusahaan seringkali hanya memiliki visibilitas
pada pemasok tingkat pertama (tier-1), tetapi tidak pada pemasok dari
pemasok mereka (tier-2, tier-3, dst.), di mana banyak pelanggaran
sosial sering terjadi. Penggunaan teknologi seperti Blockchain, misalnya, dapat
menciptakan catatan digital yang tidak dapat diubah (immutable ledger)
untuk setiap transaksi, memungkinkan semua pihak dalam jaringan untuk
memverifikasi asal-usul suatu material secara independen. Transparansi
adalah langkah selanjutnya, yaitu kesediaan untuk membagikan informasi
keterlacakan ini kepada publik dan konsumen, membangun kepercayaan melalui
keterbukaan
Untuk menegakkan standar
ketenagakerjaan dan etika, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan janji dari
pemasok. Diperlukan sebuah mekanisme verifikasi yang sistematis, dan di sinilah
peran audit sosial menjadi sangat penting.
Standar dan sertifikasi
audit sosial yang diakui secara global, seperti SA8000, yang memberikan jaminan
kredibel bahwa sebuah fasilitas memenuhi standar kelayakan sosial
internasional. Hasil audit ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk
pengambilan keputusan: apakah melanjutkan kerja sama, menuntut perbaikan (corrective
action plan), atau menghentikan hubungan bisnis dengan pemasok yang gagal
patuh.
Tanggung jawab sosial
sebuah perusahaan meluas hingga ke luar gerbang pabrik atau kantornya. Setiap
operasi bisnis memiliki dampak langsung terhadap komunitas lokal di sekitarnya,
dan mengelola dampak ini secara positif adalah bagian integral dari pilar People.
Ini sering disebut sebagai "izin sosial untuk beroperasi" (social
license to operate). Aspek ini memiliki dua sisi: memitigasi dampak
negatif, menciptakan nilai positif (creating shared value), perekrutan
tenaga kerja lokal, pengadaan lokal; 5) Investasi komunitas.
Strategi dan
Implementasi Keberlanjutan dalam Operasi
Di era Industri 4.0,
teknologi tidak lagi hanya menjadi pendukung, melainkan menjadi akselerator
utama bagi inisiatif keberlanjutan. Digitalisasi memungkinkan perusahaan untuk
mendapatkan visibilitas, efisiensi, dan kecerdasan yang sebelumnya tidak
terbayangkan.
Internet of Things (IoT)
merujuk pada jaringan perangkat fisik yang dilengkapi dengan sensor dan
terhubung ke internet, memungkinkannya untuk mengumpulkan dan berbagi data
secara real-time
·
Di Manufaktur: Sensor
IoT yang dipasang pada mesin dapat memantau konsumsi listrik, air, dan gas
secara presisi. Data ini memungkinkan manajer untuk mengidentifikasi mesin yang
boros energi, mendeteksi kebocoran secara instan, dan mengoptimalkan jadwal produksi
untuk dijalankan pada saat biaya energi lebih rendah.
·
Di Logistik: Sensor pada
armada truk dapat melacak konsumsi bahan bakar, pola pengereman, dan kondisi
mesin, memberikan data untuk melatih pengemudi dalam teknik mengemudi yang
lebih hemat energi (eco-driving).
Seperti yang dibahas
sebelumnya, keterlacakan adalah kunci untuk memastikan sumber yang etis dan
ramah lingkungan. Blockchain menawarkan solusi yang kuat untuk tantangan ini.
Blockchain adalah buku besar digital yang terdesentralisasi dan tidak dapat
diubah (immutable). Setiap kali sebuah produk berpindah tangan atau diproses di
sepanjang rantai pasok, sebuah "blok" transaksi baru ditambahkan ke
rantai, menciptakan jejak digital yang permanen dan dapat diverifikasi oleh
semua pihak yang berwenang.
Contoh, pada rantai
pasok kopi, blockchain dapat mencatat data dari petani (sertifikasi fair
trade), prosesor (penggunaan air), hingga eksportir. Konsumen akhir kemudian
dapat memindai kode QR pada kemasan untuk melihat seluruh perjalanan kopi
tersebut, memberikan tingkat transparansi yang membangun kepercayaan.
Rantai pasok modern
menghasilkan volume data yang sangat besar (Big Data). Big Data Analytics
adalah proses menganalisis kumpulan data masif ini untuk menemukan pola, tren,
dan wawasan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.
·
Optimalisasi Logistik:
Menganalisis data lalu lintas historis, cuaca, dan jadwal pengiriman dapat
membantu menciptakan rute yang paling efisien, mengurangi jarak tempuh dan
emisi CO2.
·
Manajemen Permintaan:
Analitik prediktif dapat meningkatkan akurasi peramalan permintaan (demand
forecasting). Hal ini sangat penting untuk mengurangi pemborosan akibat
kelebihan produksi (overproduction) dan penumpukan inventaris yang tidak
perlu, yang merupakan salah satu pemborosan terbesar dalam prinsip Lean.
Perusahaan memastikan
bahwa program keberlanjutan berjalan sesuai rencana, perusahaan harus
menetapkan Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicators - KPIs)
yang jelas dan relevan. KPIs ini membuat tujuan keberlanjutan menjadi konkret
dan terukur.
Metrik ini mengukur
dampak operasional perusahaan terhadap planet. Contohnya meliputi: intensitas
emisi, konsumsi sumber daya, tingkat sirkularitas, persentase limbah daur
ulang. Metrik ini mengukur kinerja perusahaan dalam pilar People.
Contohnya meliputi: tingkat frekuensi kecelakaan kerja (lost time injury
frequency rate - ltifr), jam pelatihan per karyawan, tingkat perputaran
karyawan (employee turnover rate), keberagaman pemasok (supplier
diversity).
Standar dan sertifikasi
dari pihak ketiga memberikan dua manfaat utama: kredibilitas dan kerangka
kerja. Mereka memberikan bukti objektif kepada pemangku kepentingan bahwa klaim
keberlanjutan perusahaan adalah sah, sekaligus menyediakan panduan terstruktur
untuk implementasi seperti: ISO 14001, Fair Trade, B Corp Certification.
Tantangan keberlanjutan
terlalu besar untuk diatasi oleh satu perusahaan sendirian. Kolaborasi adalah
kunci. Ini berarti mengubah hubungan transaksional menjadi kemitraan strategis,
seperti: Kolaborasi dengan Pemasok: Bergerak melampaui audit dan kepatuhan
menuju program pengembangan pemasok (supplier development). Perusahaan
besar dapat berbagi pengetahuan, teknologi, dan bahkan memberikan insentif
finansial untuk membantu pemasok mereka menjadi lebih berkelanjutan. Dimana
kolaborasi yang dapat dilakukan antara lain: kolaborasi dengan pelanggan,
kolaborasi dengan pemasok, kolaborasi dengan pesaing.
Keberlanjutan dalam
Industri Jasa (Layanan)
Hingga saat ini,
pembahasan banyak berfokus pada rantai pasok produk fisik—manufaktur, logistik,
dan material. Namun, sektor ekonomi terbesar di banyak negara adalah industri
jasa. sektor ini memiliki jejak lingkungan dan sosial yang signifikan. Pembahasan
selanjutnya akan mengalihkan lensa dari dunia produk yang berwujud (tangible)
ke dunia layanan yang tak berwujud (intangible)
Manajemen jasa memiliki
karakteristik fundamental yang membedakannya dari manufaktur, dan setiap
karakteristik ini membawa tantangan keberlanjutan yang khas: tak berwujud (intangibility),
tak terpisahkan (inseparability), keragaman (variability), tidak
tahan lama (perishability).
Meskipun jasa bersifat
tak berwujud, penyediaannya sangat bergantung pada aset fisik dan sumber daya.
Mengelola aset ini secara berkelanjutan adalah kunci untuk mengurangi jejak operasional.
Contoh pada industri perhotelan, industri transportasi dan logistik, industri
Keuangan
Pendekatan yang paling
proaktif adalah merancang proses layanan itu sendiri agar secara inheren lebih
berkelanjutan sejak awal. Ini melibatkan pemikiran tentang keseluruhan cetak
biru layanan (service blueprint) dan interaksi dengan pelanggan, seperti:
merancang untuk efisiensi sumber daya, merancang untuk mempengaruhi perilaku
pelanggan, merancang untuk kesejahteraan sosial.
Penyedia Jasa Logistik
Pihak Ketiga (Third-Party Logistics - 3PL) adalah studi kasus yang
sempurna karena mereka adalah perusahaan jasa murni yang operasinya menjadi
tulang punggung bagi rantai pasok banyak perusahaan lain. Sebuah 3PL yang
berkelanjutan dapat menjadi katalisator perubahan di seluruh ekosistem.
Sebuah 3PL terdepan
dapat menerapkan prinsip keberlanjutan melalui: logistik hijau sebagai layanan,
visibilitas dan pelaporan, optimalisasi jaringan, logistik balik sebagai solusi
sirkular
Dengan melakukan ini,
3PL tidak hanya mengurangi jejak operasinya sendiri tetapi juga berfungsi
sebagai enabler keberlanjutan bagi puluhan atau ratusan perusahaan yang menjadi
kliennya.
Tantangan, Hambatan, dan
Masa Depan
Perjalanan menuju
operasi dan rantai pasok yang sepenuhnya berkelanjutan bukan jalan yang mudah.
Pada akhirnya, dapat disimpulkan dengan menegaskan kembali visi utama:
membangun ekosistem rantai pasok yang tidak hanya efisien, tetapi juga resilien
dan bertanggung jawab.
Meskipun manfaat jangka
panjang dari keberlanjutan sangat jelas, jalan menuju implementasinya dipenuhi
dengan berbagai rintangan praktis seperti: biaya investasi awal yang tinggi,
kompleksitas jaringan rantai pasok global, kurangnya standar universal.
Tantangan-tantangan di
atas tidak dapat diatasi hanya dengan solusi teknis. Perubahan yang
transformatif memerlukan fondasi manusia yang kuat, yang berakar pada
kepemimpinan dan budaya, seperti: peran kepemimpinan yang kuat (top-down),
membangun budaya organisasi yang tepat (bottom-up).
Konsep keberlanjutan
seringkali berfokus pada "mengurangi dampak negatif" atau mencapai
posisi netral (net-zero). Paradigma berikutnya adalah rantai pasok regeneratif,
yang bertujuan untuk secara aktif memberikan dampak positif—meninggalkan ekosistem
dan masyarakat dalam kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya
Contohnya adalah dalam
praktik pertanian regeneratif yang tidak hanya menghasilkan panen tetapi juga
memulihkan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati.
·
Kecerdasan Buatan (AI)
untuk Keberlanjutan: AI dan machine learning akan menjadi alat yang
sangat kuat. AI dapat menganalisis miliaran titik data untuk menciptakan rute
logistik yang paling optimal secara real-time, memprediksi kegagalan
mesin untuk mencegah limbah, mengoptimalkan penggunaan energi di smart grid,
dan bahkan memantau deforestasi atau pelanggaran hak asasi manusia melalui
analisis citra satelit.
·
Tuntutan Regulasi yang
Semakin Ketat: Apa yang hari ini bersifat sukarela, besok bisa menjadi
kewajiban. Pemerintah di seluruh dunia diperkirakan akan memberlakukan peraturan
yang lebih ketat terkait penetapan harga karbon (carbon pricing),
kewajiban uji tuntas (due diligence) hak asasi manusia di seluruh rantai
pasok, dan mandat tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer
Responsibility - EPR), yang mewajibkan perusahaan untuk bertanggung jawab
atas produk mereka di akhir siklus hidupnya.
Perjalanan yang telah dilalui
dalam tulisan ini—dari fondasi konseptual, pilar lingkungan dan sosial, hingga
strategi implementasi—menegaskan satu hal: membangun operasi dan rantai pasok
yang berkelanjutan bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah proses
evolusi yang berkelanjutan. Ini adalah pergeseran fundamental dari model linear
dan ekstraktif menuju model sirkular yang terintegrasi.
Tantangan yang ada
memang nyata, tetapi begitu pula peluangnya. Dengan memadukan kepemimpinan yang
visioner, budaya yang inovatif, dan teknologi yang canggih, perusahaan dapat
mengatasi hambatan yang ada. Pada akhirnya, tujuannya bukanlah sekadar untuk
menjadi "hijau" atau "etis" demi citra. Tujuannya adalah
untuk membangun sebuah ekosistem rantai pasok yang secara inheren lebih
resilien—mampu bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi guncangan—dan secara
mendalam lebih bertanggung jawab terhadap planet dan seluruh penghuninya. Rantai
pasok masa depan adalah rantai pasok yang menciptakan nilai abadi, bukan hanya
keuntungan sesaat.
Daftar
Pustaka
Barata,
F. , R. P. , H. L. , O. R. , A. M. , S. P. , & E. E. (2024). Safety risk
and operational efficiency on logistic service providers’ sustainable coal
supply chain management. Uncertain Supply Chain Management. Uncertain
Supply Chain Management, 12(1), 461–470.
Elkington,
J. (2020). Praise For Green Swans (First Edition). Fast Company Press.
Mardhiani,
S., Puspita, R., Sitorus, P., Syafiq, N., Bijaksana, G., Firmansyah, I., Yoga
Tursilarini, T., & Purnama, A. (2024). Planning of Consumable Packing
Warehouse To Solve Packing Delays Using Probabilistic Economic Order Quantity
(EOQ) Methods. Advances in Transportation and Logistics Research, 7,
880–890.
Parlindungan,
P., Mardhiani, S., Puspita, R., Firmansyah, I., & Risaldi, A. (2022).
Inventory Material Control With Economic Order Quantity (EOQ) Method On
Production Sharing Contract Mallaca Strait Field Area. GrostLog Tahun 2022,
12–24. http://proceedings.itltrisakti.ac.id/index.php/altr
Parlindungan
Sitorus, P., Anlisah Sholihah, S., & Lucky Fadzrin, H. (2025). Designing A
Reverse Logistics Monitoring System for Logistics Products at PT XYZ. Journal
Research of Social Science, Economics, and Management, 05(02), 8.
https://doi.org/https://doi.org/10.59141/jrssem.v5i2.1092
Rath,
S. B., Basu, P., Govindan, K., & Mandal, P. (2024). Platform vs. 3PL
financing: Strategic choice of lending model for an e-tailer under operational
risk. Transportation Research Part E: Logistics and Transportation Review,
184. https://doi.org/10.1016/j.tre.2024.103459
Rayansa,
W. R., Setiawan, E. B., & Sitorus, M. R. (2023). Strategi Membangun
Kepercayaan dan Kepuasan Pengguna Aplikasi CEISA pada Perusahaan Logistik. In D.
Winarni (Ed.), Eureka Media Aksara. Eureka Media Aksara.
Romy,
E., Ilyus, A., Anisah, H. U., Butarbutar, M., Rahmawati, K., Ruminda, M.,
Utami, M. A. J. P., Budiyasa, I. G. P. E., Farid, F., Lie, D., Loist, C.,
Purba, F. F., Pasaribu, L. N., Hapsari, N. R., Ningrum, R. W., Putra, V. H.
C., & Sarwani, S. (2025). Manajemen Bisnis Digital. In A. Setyawati &
A. Sudirman (Eds.), Ganesha Kreasi Semesta. Ganesha Kreasi Semesta.
Ruminda,
M. (2025). Manajemen Informasi dalam Bisnis. In Manajemen Bisnis Digital
(pp. 19p 84-103). Ganesha Kreasi Semesta.
https://ganeshakreasisemesta.com/2025/07/05/manajemen-bisnis-digital/
Shih,
D.-H., Huang, F.-C., Chieh, C.-Y., Shih, M.-H., & Wu, T.-W. (2021).
Preventing return fraud in reverse logistics—A case study of espres solution
by ethereum. Journal of Theoretical and Applied Electronic Commerce
Research, 16(6), 2170–2191. https://doi.org/10.3390/jtaer16060121
Sianturi,
T. F. D., Djati, S. P., Ruminda, M., & Arifiani, L. (2024). Blockchain
Technology’s Impact on Port Logistic Operational Enhancement at Pontianak
Port. Dinasti International Journal of Education Management & Social
Science, 5(6).
Zhou,
S., Li, W., Lu, Z., & Cheng, R. (2020). An ecosystem-based analysis of
urban sustainability by integrating ecosystem service bundles and
socio-economic-environmental conditions in China. Ecological Indicators,
117. https://doi.org/10.1016/j.ecolind.2020.106691
